Jumat, 27 Januari 2012

Tentang mas H.Tarmadji Boedi Harsono, S.E




Hidup tak ubahnya seperti air. Bergerak mengalir dari hulu, berproses, menuju muara. Begitupun perjalanan hidup H.Tarmadji Boedi Harsono, S.E. Siswa kinasih R.M. Imam Koesoepangat (peletak dasar reformasi ajaran Persaudaraan Setia Hati Terate ) ini, layaknya sebagai manusia lumrah telah berproses melewati perjalanan waktu liku-liku dalamnya. Atas proses serta bimbingan langsung dari RM. Imam Koesoepangat itu pulalah, akhirnya akhirnya mencapai puncak tataran ilmu Setia Hati dan dan dipercaya menjadi Ketua Umum Pusat empat periode berturut-turut sejak, sejak tahun 1981 hingga tahun 2000. H.Tarmadji Boedi Harsono, S.E, lahir di Madiun, Februari 1946. Ia merupakan anak sulung dari enam bersaudara, dari keluarga sederhana dengan tingkat perekonomian pas-pasan. Ayahnya, Suratman, hanyalah seorang pegawai di Departemen Transmigrasi, sedangkan ibunya, Hj. Tunik hanya sebagai ibu rumah tangga. Dari latar belakang keluarga ini, dia pun melewati masa kecil penuh kesederhanaan. Namun ketika Tarmadji Boedi Harsono beranjak dewasa, kekurangan ini justru melahirkan semangat juang tinggi dalam merubah nasib, hingga dia berhasil menjadi seorang tokoh cukup diperhitungkan. Sosok tokoh yang tidak saja diperhitungkan di sisi harkat dan martabatnya, akan tetapi juga berhasil menyeruak kepermukaan dan mampu mengenyam kehidupan cukup layak dan wajar.

Masa kecil H.Tarmadji Boedi Harsono,S.E, sendiri berjalan biasa-biasa saja, laiknya seorang bocah. Di kalangan teman sepermainannnya, dia dikenal sebagai anak pemberani dan nakal. Bahkan sejak duduk di bangku kelas 3 SD Panggung Madiun, Tarmadi (demikian dia punya nama kecil) sudah berani berkelahi di luar. Kenakalannnya berlanjut hingga ia masuk SMP. Bahkan ketika duduk di SMU I Madiun, ia pernah diancam akan dikeluarkan dari sekolah jika tetap senang berkelahi.

Yang agak berbeda dibanding teman seusia adalah, kesukaan dia bermain dengan teman yang usianya jauh lebih tua. Barangkali karena kesukaannya ini, kelak menjadikan cara berpikir Tarmadji Boedi Harsono cepat kelihatan dewasa.

Masuk Persaudaraan Setia Hati Terate

Tarmadji Boedi Harsono mulai tertarik pada olah kanuragan (beladiri), saat berusia 12 tahun. Ceritanya, saat itu, tahun 1958, di halaman Rumah Dinas Walikota Madiun digelar pertandingan seni beladiri pencak silat (sekarang pemainan ganda). Satu tradisi tahunan yang selalu diadakan untuk menyambut hari proklamasi kemerdekaan. Tarmadji kecil sempat kagum pada permainan para pendekar yang tanpil di panggung. Terutama R.M Imam Koesoepangat, yang tampil saat itu dan keluar sebagai juara.

Sepulang melihat gelar permainan seni bela diri beladiri pencat silat itu, benaknya dipenuhi obsesi keperkasaan para pendekar yang tampil di gelangggang. Ia bermimipi dalam cita rasa dan kekaguman jiwa kanak-kanak. Cita rasa dan kekaguman itu, menyulut keinginan dia belajar pencak agar agar menjadi pendekar perkasa. Sosok pendekar sakti sekaligus juara, persis seperti yang tergambar dalam benaknya.

Kebetulan tidak jauh dari rumahnya, tepatnya di Paviliun Kabupaten Madiun (rumah keluarga R.M. Koesoepangat, terletak bersebelahan dengan Pendopo Kabupaten Madiun) ada latihan pencak silat Persaudaraan Setia Hati Terate. Pelatihnya adalah R.M. Imam Koesoepangat. Selang sepekan sejak menonton permainan seni pencak silat di halaman Rumah Dinas Walikota itu, Tarmadji Boedi Harsono memberanikan diri menemui R.M Imam Koesoepangat, meminta agar diperbolehkan ikut latihan ikut latihan. Namun, permintaan itu ditolak dengan alasan usianya masih terlalu muda.

Saat itu, ada tata tertib, yang boleh mengikuti latihan Persausaraan Setia Hati Terate adalah anak dengan usia 17 tahun ke atas (sudah dewasa). Atau anak yang sudah duduk di bangku SLTA . Ia baru diperbolehkan ikut latihan pada tahun berikutnya, yakni tahun 1959. Kebetulan adik mas Imam, R.M. Abdullah Koesnowidjojo (mas gegot), juga ngotot ingin ikut latihan. Untuk menemani, Tarmadji, akhirnya diperbolehkan ikut latihan, dengan syarat, harus menempati baris paling belakang, bersama-sama dengan Mas Gegot.

Kesempatan pertama yang diberikan padanya, benar, tak disia-siakan. Hari-hari setelah diizinkan ikut latihan, boleh dibilang, dipenuhi gerak dan langkah Persaudaraan Setia Hati Terate. Apalagi jadwal latihan saat itu belum terformat seperti sekarang ini. Kadang siang hari, sepulang R.M. Imam Koesoepangat dari pekerjaannya. Tidak jarang, ia berlatih di malam hari hingga waktu fajar. Satu hal yang cukup mendukung proses latihaimya adalah kedekatan tempat tinggalnya dengan Pavilium. Ini karena rumah keluarga Tarmadji hanya terpaut sekitar 200 meter arah barat dari Paviliun. Terlebih, R.M. Abdullah Koesnowidjojo sendiri merupakan teman akrabnya. Hampir setiap hari, ia bermain di Pavilium dan setiap pukul 13.00 WIB, ia dan R.M. Abdullah Koesnowidjojo, telah menunggu kepulangan Mas Imam (panggilan akrab R.M. Imam Koesoepangat) di beranda Pavilium. Begitu melihat Mas Imam pulang, ia langsung menyalaminya dan bersabar menunggu sang pelatih makan siang. Kadang harus bersabar pula menunggu cukup lama, karena Mas Imam perlu istirahat selepas kerja.

Berhari-hari, berbulan bahkan bertahun, ketekunan dan kesabaran serupa itu dilakukannya. Obsesinya hanya satu, ia ingin menjadi pendekar Persaudaraan Setia Hati Terate. Seorang pendekar yang tidak saja menguasai ilmu beladiri, tapi juga mengerti hakikat kehidupan. la ingin tampil menjadi sosok manusia seutuhnya. Manusia yang cukup diperhitungkan, menjadi teladan bagi sesama. Dan,jalan itu kini mulai terbuka. Tarmadji Boedi Harsono tidak ingin menyia-nyiakannya

Ketekunan dan kemauan kerasnya itu, menjadikan R.M. Imam Koesoepangat menaruh perhatian penuh padanya. Perhatian itu ditunjukkan dengan seringnya dia diajak mendampingi beliau melakukan tirakatan ke berbagai tempat, kendati saat itu masih siswa dan belum disyahkan.

Dari Paviliun ini, Tarmadji Boedi Harsono kecil, selain belajar pencak silat, juga mulai menyerap ajaran tatakrama pergaulan dalam lingkup kaum ningrat. Satu tatanan pergaulan kelompok bangsawan trah kadipaten pada zamannya. Pergaulannya dengan R.M. Imam Koesoepangat ini, membuka cakrawala baru baginya. Tarmadji yang lahir dan berangkat dari keluarga awam, sedikit demi sedikit mulai belajar tatakrama rutinitas hidup kaum bangsawan. Dari tatakrama bertegur sapa dengan orang yang usianya lebih tua, bertamu, makan, minum. hingga ke hal-hal yang berbau ritual, misalnya olahrasa (latihan mempertajam daya cipta) atau laku tirakat. Dalam istilah lebih ritual lagi, sering disebut sebagai tapa brata, di samping tetap tekun belajar olah kanuragan.

Salah satu pesan yang selalu ditekankan R.M. Imam Koesoepangat setiap kali mengajak dia melakukan tirakatan adalah; “Jika kamu ingin hidup bahagia, kamu harus rajin melakukan tirakat. Disiplin mengendalikan dirimu sendiri dan jangan hanya mengejar kesenangan hidup. Nek sing mokgoleki senenge, bakal ketemu sengsarana. Kosokbaline, nek sing mokgoleki sengsarane, bakal ketemu senenge (Jika kamu hanya mengejar kesenangan kamu akan terjerumus ke lembah kesengsaraan. Sebaliknya jika kamu rajin berlatih, mengendalikan hawa nafsu tirakatan, kelak kamu akan menemukan kebahagiaan). Ingat, Sepira gedhening sengsara, yen tinampa amung dadi coba (Seberat apa pun kesengsaraan yang kamu jalani, jika diterima dengan lapang dada, akan membuahkan hikmah).

Berangkat dari Pavilum ini pula, dia mulai mengenal tokoh Persaudaraan Setia Hati Terate, seperti Soetomo Mangkoedjojo, Badini, Salyo (Yogyakarta). Murtadji (Solo), Sudardjo (Porong) dan Harsono (putra Ki HadjarHardjo Oetomo -pendiri PSHT), Koentjoro, Margono, Drs. Isayo (ketiganya tinggal di Surabaya, serta Niti (Malang). Di samping mulai akrab dengan sesama siswa Persaudaraan Setia Hati Terate. Di antaranya, Soedibjo (sekarang tinggal di Palembang), Sumarsono (Madiun), Bambang Tunggul Wulung (putra Soetomo Mangkoedjojo, kini tinggal di Semarang), Sudiro (alm), Sudarso (alm), Bibit Soekadi (alm) dan R.M. Abdullah Koesnowidjojo (alm).

Suatu malam, tepatnya sepekan sebelum dia disyahkan, Soetomo Mangkoedjojo datang ke rumahnya. Padahal saat itu malam sudah larut dan ia sendiri mulai beranjak tidur. Mendengar suara ketukan di pintu, ia pun bangkit, membukakan pintu. la sempat kaget saat mengetahui yang datang adalah tokoh Persaudaraan Setia Hati Terate. Namun ketika dipersilakan masuk, Soetomo Mangkoedjojo menolaknya dan hanya berpesan,” Dik, persaudaraan nang SH Terate, nek ana sedulure teko, mbuh iku awan apa bengi, bukakno lawang sing amba. Mengko awakmu bakal entuk hikmahe, ” (Dik, Persaudaraan di Setia Hati Terate itu, jika ada saudara datang, entah itu siang atau malam, bukakan pintu lebar-lebar. Nanti, engkau bakal mendapatkan hikmah.)”

Pesan dari tokoh peletak dasar organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate itu, hingga di hari tuanya,seolah-olah terus terngiang dalam benaknnya. Pesan itu pulalah yang menjadikan dirinya setiap saat selalu bersedia membukakan pintu bagi warga Persaudaraan Setia Hati Terate yang bertandang ke rumahnya di Jl. MT. Haryono 80 Madiun, hingga saat ini.

Setelah berlatih selama lima tahun, yakni pada tahun 1963, Tarmadji Boedi Harsono disyahkan menjadi Pendekar Persaudaraan Setia Hati Terate Tingkat I, bersama-sama Soediro,Soedarso, Bibit Soekadi, Soemarsono, Soedibjo, Bambang Tunggul Wulung dan R.M Abdullah Koesnowidjojo.

Turun ke Gelangang

Keberhasilan Tarmadji Boedi Harsono meraih gelar Pendekar Tingkat I, tidak menjadikan dirinya besar kepala. la justru menerima anugerah tersebut dengan rasa syukur dan tetap tawakal. la berprinsip, keberhasilan itu barulah awal dari perjalanannya di dunia ilmu kanuragan. Masih banyak hal yang harus dipelajarinya. Dan, itu hanya bisa dilakukan jika ia tetap tekun berlatih dan belajar. Pilihannya sudah bulat. Maknanya, ia pun harus mampu melanjutkan perjalanan hingga ke titik akhir.

Pada tahun 1961, Tarmadji mulai masuk ke gelanggang pendulangan medali pencak silat dan berhasil meraih juara I dalam permainan ganda tingkat kanak-kanak se Jawa Timur, berpasangan dengan Abdullah Koesnowidjojo. Sukses itu, diulang lagi tahun 1963. Di tahun yang sama, sebenamya Tarmadji berkeinginan turun ke pertandingan adu bebas di Madiun, akan tetapi Mas Imam melarang. la sempat menangis karena dilarang ikut bertanding. Tahun 1966, pasangan Tarmadji dan RB. Wijono kembali ikut kejuaraan yang sama di Jatim. Namun ia sombong sebelum bertanding. Meremehkan lawan. Akibatnya, gagal mempertahankan juara dan hanya berhasil merebut juara II. Kesombongan berbuah kehancuran. Kegagalan mempertahankan gelar ini, menjadikan dirinya malu berat dan tidak mau mengambil tropi kejuaraan.

Kasus serupa terulang lagi pada tahun 1968, saat mengikuti kejuaraan di Jember. Padahal sebelum berangkat Mas Imam sudah memperingatkan agar ia tidak usah ikut karena kurang persiapan. Namun Tarmadji nekat berangkat. Dan, hasilnya adalah kekalahan yang menyedihkan, karena hanya berhasil menjadi Juara harapan.

Kegagalan demi kegagalan mempertahankan gelar juara, menjadikan Tarmadji sadar bahwa sombong dan meremehkan lawan hanya akan menuai kekalahan. Untuk itu ia musti berlatih lagi. Pempersiapkan diri sebelum bertanding. Hasilnya, ia kembali mampu merebut juara I di Pra PON VII, Surabaya. Di PON VII, ia meraih juara III.

Pengalaman bertanding di gelanggang ini merupakan bekal Tarmadji melatih altet pada tahun-tahun tujuh puluhan. Bahkan pada tahun 1978, ia memberanikan diri menerjunkan altet ke gelanggang pertandingan, kendati Mas Imam, kurang sependapat. Dalam kurun waktu 1974-1978, Mas Imam sempat mengambil kebijakan tidak menurunkan atlet ke gelanggang. Namun pada tahun 1978, Tarmadji memberanikan diri membawa atlet asuhannya ke gelanggang. la pula yang berhasil meyakinkan Mas Imam, bahwa Persaudaraan Setia Hati Terate masih tetap diperhitungkan di gelanggang kejuaraan. Terbukti, sejumlah atlet asuhannya, berhasil meraih medali kejuaraan.

Sementara itu, di luar ketekunannya memperdalam gerak raga, Tarmadji Boedi Harsono kian khusyuk dalam memperdalam olah rasa. Hubungan dekatnya dengan R.M Imam Koesoepangat, memberi kesempatan luas pada dirinya untuk memperdalam Ke-SH-an. Jika dulu, ketika belum disyahkan menjadi pendekar tingat I, ia hanya diajak mendampingi Mas Imam saat beliau melakukan tirakatan, sejak disyahkan ia mulai dibimbing untuk melakukan tirakatan sendiri. Beberapa tatacara dan tatakrama laku ritual mulai diberikan, di samping bimbingan dalam menghayati jatidiri di tengah-tengah rutinitas kehidupan ini.

Di penghujung tahun 1965, setamat Tarmadji Boedi Harsono dari SMA, semangatnya untuk memperdalam ilmu Setia Hati kian menggebu. Bahkan di luar perintah R.M Imam Koesoepangat, ia nekat melakukan tirakat puasa 100 hari dan hanya makan sehari satu kali.waktu matahari tenggelam (Magrib). Ritual ini ditempuh karena terdorong semangatnya untuk merubah nasib. la ingin bangkit dari kemiskinan. la tidak ingin berkutat di papan terendah dalam strata kehidupan. la ingin diperhitungkan.

Genap 70 hari ia berpuasa, R.M Imam Koesoepangat memanggilnya. Malam itu, ia diterima langsung di ruang dalem paliviun. Padahal biasanya Mas Imam hanya menerimanya di ruang depan atau pendopo. Setelah menyalaminya, Mas Imam malam itu meminta agar ia menyelesaikan puasanya. Menurut Mas Imam, jika puasanya itu diteruskan justru akan berakibat fatal.”Dik Madji bisa gila, kalau puasanya diteruskan. Laku itu tidak cocok buat Dik Madji,” ujar Mas Imam.

“Di samping itu,” lanjut Mas Imam,” Dik Madji itu bukan saya dan saya bukan Dik Madji. Maka, goleko disik sangune urip Dik, lan aja lali golek sangune pati (carilah bekal hidup lebih dulu dan jangan lupa pula mencari bekal untuk mati).”

Kemudian dengan bahasa isyarat (sanepan) Mas Imam memberikan petunjuk tata cara laku tirakat yang cocok bagi dirinya. “Api itu musuhnya air, Dik,” ujar Mas Imam. Sanepan itu kemudian diterjemahkan oleh Tarmadji dalam proses perjalanan hidupnya, hingga suatu ketika ia benar-benar menemukan laku yang sesuai dengan kepribadiannya. la menyebut, laku tersebut sebagai proses mencari jati diri atau mengenal diri pribadi. Yakni, ilmu Setia Hati.

Malam itu juga, atas nasihat dari R.M Imam Koesoepangat, Tarmadji mengakhiri laku tirakatnya. Pagi berikutnya, ia mulai keluar rumah dan bergaul dengan lingkungan seperti hari-hari biasanya. Enam bulan berikutnya, ia mulai mencoba mencari pekerjaan dan diterima sebagai karyawan honorer pada Koperasi TNI AD, Korem 081 Dhirotsaha Jaya Madiun. Pekerjaan ini dijalaninya hingga tahun 1971.

Pada tahun 1972, ia berpindah kerja di Kantor Bendahara Madiun, namun hanya bertahan beberapa bulan dan pindah kerja lagi di PT. Gaper Migas Madiun pada paroh tahun 1973. Setahun kemudian, ia menikah dengan Hj.Siti Ruwiyatun, setelah dirinya yakin bahwa honor pekerjaannya mampu untuk membina mahligai rumah tangga. (Dari pemikahannya ini, Tarmadji Boedi Harsono dikaruniai tiga orang putra. Yakni Dani Primasari Narendrani,S.E, Bagus Rizki Dinarwan dan Arya Bagus Yoga Satria).

Di tempat kerja yang baru ini, tampaknya, Tarmadji menemukan kecocokan. Terbukti, ia bisa bertahan lama. Bahkan pada tahun 1975 ia ditunjukkan untuk menjadi semi agen minyak tanah dan diberi keleluasaan untuk memasarkan sendiri. Berawal dari sini, perekonomian keluarganya mulai kokoh. Sedikit demi sedikit ia mulai bisa menyisihkan penghasilannya, hingga pada tahun 1976 berhasil membeli armada tangki minyak tanah sendiri. Berkat keuletan dan perjuangan panjang tanpa kenal menyerah, pada tahun 1987, Termadji Boedi Harsono diangkat menjadi agen resmi Pertamina. Dalam perkembangannya, ia bahkan berhasil dipercaya untuk membuka SPBU (Pom Bensin) di Beringin Ngawi. Bahkan di dunia bisnis migas ini, ia ditunjuk memegang jabatan sebagai Ketua III, DPD V Hiswana Migas dengan wilayah kerja Jawa Timur, Bali, NTT dan NTB.

Tampaknya dunia wirausaha memang tepat baginya. Ini bisa dilihat lewat pengembangan sayap usahanya, yang tidak hanya berkutat dibidang migas,tapi juga merambah ke dunia telekomunikasi dengan mendirikan sejumlah Wartel (warung telekomunikasi). Malahan di bidang ini, ia ditunjuk debagai Ketua APWI (Asosiasi Pengusaha Wartel Indonesia) untuk daerah Madiun dan sekitamya.

Di sela-sela kesibukan kerja Tarmadji Boedi Harsono tetap mengembangkan Persaudaraan Setia Hati Terate. Bahkan, tidak jarang ia rela mengalahkan kepentingan keluarga dan pekerjaannya demi Persaudaraan Setia Hati Terate. “Persaudaraan Setia Hati terate adalah darah dagingku. la sudah menjadi bagian dari hidupku sendiri,” tutumya.

Sementara itu, kebiasaan nyantrik di kediaman R.M Imam Koesoepangat terus dijalani. Kepercayaan dan perhatian Mas Imam sendiri setelah ia berhasil menyelesaikan pelajaran tingkat I, semakin besar. Sampai-sampai kemana pun Mas Imam pergi, ia selalu diajak mendampinginya. Tahun 1970 ia disyahkan menjadi pendekar Persaudaraan Setia Hati Terate tingkat II. Tahun 1971, Tarmadji dipercaya menjadi Ketua Cabang Persaudaraan Setia Hati Terate Madiun. Jabatan tersebut dijalani hingga tahun 1974.

Latihan Tingkat III

Pada suatu siang, sekitar pukul 11.00 WIB, di Tahun 1978, Tarmadji dipanggil R.M Imam Koesoepangat di rumah Pak Badini. Orang yang diminta memanggil dia adalah Soebagyo.TA. Tanpa berpikir dua kali, ia berangkat ke Oro-Oro Ombo, tempat kediaman Pak Badini. Mas Imam mengutarakan niat, akan membuka latihan tingkat III. Tarmadji sendiri yang dipilih untuk dilatih sekaligus diangkat dan disyahkan menjadi Pendekar Tingkat III.

“Kula piyambak,Mas? (Saya sendiri,Mas?)” tanya Tarmadji agak kaget.

“Njih.Dik. Dik Madji piyambak!, (Ya, Dik. Hanya Dik Tarmadji sendiri!)” jawab Mas Imam.

Mendengar jawaban itu, Tarmadji dengan santun, menolak. la tidak bersedia disyahkan menjadi Pendekar Tingkat III jika sendirian. “Kula nyuwun rencang. Mas (Saya minta teman,Mas), “Tarmadji meminta.

“Nek Dik Madji nyuwun rencang, sinten? (Kalau Dik Madji minta teman, siapa?)” tanya Mas Imam.

Tarmadji saat itu langsung menyebut nama-nama Pendekar Tingat II seangkatan. Namun Mas Imam menolak dan bersikukuh tetap hanya akan mengangkat Tarmadji sendiri. Terjadi tarik ulur. Satu sisi Mas Imam bemiat hanya akan mengangkat dia, namun Tarmadji tetap minta teman.

“Sapa Dik, kancamu?” tanya Mas Imam. Tarmadji menyebut nama Soediro.

Nama ini pun semula ditolak. Namun atas desakan dia, akhimya Mas Imam menyetujui dengan syarat ia harus mau ikut menangung risiko. Dalam pikiran Tarmadji, apa yang disebut risiko, waktu itu adalah risiko pembiayaan yang terkait dengan pengadaan persyaratan pengesahan (ubarampe). Karenanya, ia langsung menyanggupi.

Hari-hari berikutnya, Tarmadji dan Soediro, mulai berlatih tingkat III. Pelaksanaan latihan berjalan lancar. Namun pada saat mereka disyahkan, sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Sesuatu itu, adalah hal yang di luar perhitungan akal sehat. Sesuatu yang erat kaitannya dengan misteri ghaib. Tarmadji tidak pemah menduga bahwa misteri itu akan berbuntut panjang. Dan, Wallahu a’lam bi ssawab, hanya Allah yang Maha Mengerti. Temyata dalam perjalan hidup, Soediro lebih dulu dipanggil Yang Kuasa.

Peristiwa itu, sungguh, sangat menggetarkan jiwa Tarmadji. Pedih rasanya. Lebih pedih lagi, saat ia melihat Mas Imam menangis di samping jenazah saudara seperguruannya itu. Semoga anrwah beliau diterima di sisi-Nya.........

Kiprah di Luar Persaudaraan Setia Hati Terate

Tampaknya memang bukan H. Tarmadji Boedi Harsono,S.E, jika ia hanya puas berkutat dengan prestasi yang dicapai di dalam organisasi Persaudaraan Setia Hati Terate. Sebagai bagian dari anggota masyarakat, ia pun terbukti tampil cukup diperhitungkan. Tokoh yang mendapatkan gelar sarjana ekonomi dari Unmer Madiun ini juga andil di organisasi masyarakat. Bahkan sempat menduduki sejumlah jabatan cukup strategis hampir di setiap organisasi yang diikutinya.

Di sisi lain, kariermya di bidang politik juga cukup matang. Terbukti ia dipercaya menjadi wakil rakyat Kodya Madiun (anggota DPRD) hingga dua periode. Masing- masing periode 1987 -1992 dananggotaDPRDKodyaMadiunperiode 1997 – 1999. Puncak prestasi yang berhasil diraih di bidang politik ini tercipta pada tahun 1998, di mana H. Tarmadji Boedi Harsono,S.E diberi kepercayaan untuk tampil 1 sebagai salah seorang Calon Wali Kota Madiun

Sementara itu, menyadari dirinya adalah seorang muslim, pada tahun 1995 ia bersama istri tercinta, Siti Ruwiatun berangkat ke tanah suci Mekah Al Mukaromah menjadi tamu Allah, menunaikan rukun Islam yang kelima, yakni ibadah haji. Ibadah ini kembali diulang pada tahun 2000. Sepulang menjalankan ibadah haji, ia dipercaya memimpin IPHI (Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) Kodya Madiun.


Meski sudah berusia 87 tahun pada tahun 2009,namun Persaudaraan Setia Hati Terate yang berpusat di Madiun ini,masih tetap eksis. Bahkan semakin berkembang,apalagi setelah H Tarmadji Boedi Harsono SE, memegang kendali sebagai ketua Umum Pusat.
Perombakan dasar manajemen dan reformasi di tubuh Persaudaraan Setia Hati Terate pun dilaklukan. Meski banyak tantangan,namun dengan satu ketetapan hati untuk memajukan persaudaraan ini,apa yang dilakukan itu telah membuahkan hasil. Apalagi semua itu juga merupakan wasiat dari almarhum RM Imam Koesoepangat.
Pembaharuan yang dilakukan memang berawal ketika ia dipanggil oleh Mas Imam. Waktu itu 1977,ia di minta membantu Badani yang waktu itu sebagai Ketua Umum untuk membenahi kinerja Persaudaraan Setia Hati Terate. Sebenarnya waktu itu beliau merasa kurang pas,lantaran masih ada kadang lain yang dinilai lebih senior dan mampu untuk menerima tugas itu.
Ditambah lagi sebenarnya saat itu mas Madji sedang tidak aktif di SH Terate. Sebab sejak tahun 1973,ia sedang menekuni bidang pekerjaannya di PT.Gapermigas,sehingga aktifitasnya sebagai pelati di Persaudaraan Setia Hati Terate untuk sementara ditinggalkannya. Padahal tahun 1969,beliau sudah mengesahkan beberapa warga di antaranya adalah,Sentot, Sudradjat, Eddy, Purnomo dan lainnya.
“Tetapi siap untuk menerima amanah itu,namun dengan catatan kalau saya bekerja diperbolehkan melakukan perombakan,”katanya.
Sudahlah, saya percaya dengan dik Madji. Yang penting bagaimana Persaudaraan Setia Hati Terate bisa menjadi besar tanpa bantuan orang lain,”kata Mas Imam kala itu seperti yang ditirukan Mas Madji.
Mendapat kepercayaan seperti itu,beliau pun cancut taliwondho untuk membenahi Persaudaraan Setia Hati Terate. Apalagi saat itu mendapat kepercayaan untuk duduk sebagai ketua I ,sebagai orang nomor dua di Persaudaraan Setia Hati Terate setelah Mas Badini sebagai Ketua Umumnya. Yang ia lihat kali pertama saat itu,Persaudaraan Setia Hati Terate adalah masalah manajemen keuangan. “Persaudaraan Setia Hati Terate itu punya potensi,sayangnya waktu itu tidak digunakan,” katanya.
Potensi yang dimaksud adalah uang mahar (mas kawin) dari warga Persaudaraan Setia Hati Terate,di mana uang mahar itu merupakan tebusan wajib. Kalau semula, mempergunakan uang ketanan yang tidak laku,oleh Mas Madji pun diubah menjadi uang yang laku. Uang ketengan waktu itu identik dengan masyarakat kecil.
Pemikiran Mas Madji,sebuah organisasi tidak akan maju kalau tidak mempunyai dana. Sebab waktu itu hidup SH Terate hanya mengandalkan bantuan dari para kadang.”kalau begini caranya, SH Terate tidak akan besar,karena tidak mempunyai kekuatan sendiri. Organisasi tak lepas dari pendanaan,”katanya.
Perubahan sekecil apa pun pasti ada yang pro dan kontra. Mas Madji saat itu pun mendapat pertanyaan dari beberapa kadang,mengapa uang ketengan itu diganti dengan yang laku. Apalagi,kadang Persaudaraan Setia Hati Terate termasuk masyarakat kecil,begitu alasannya.
Belum lagi permasalahan tentang uang ketengan yang biasanya menjadi hak Ibu Hardjo Oetomo,sebagai istri pendiri Persaudaraan Setia Hati Terate. Namun dengan tegas Mas Madji menyatakan akan bertanggung jawab atas kehidupan Bu Hardjo Oetomo sekeluarga,”katanya.
Pada tahun 1978,sebenarnya Mas Imam tidak berkenan menurunkan atlit pencak silatnya di gelanggang pertandingan dengan beberapa pertimbangan. Namun waktu itu,sebagai ketua 1 , H Tarmadji Boedi Harsono nekad untuk mengirim atlitnya. Pertimbangannya,Persaudaraan Setia Hati Terate merupakan anggota Ikatan Pencak Silat Indonesia(IPSI).” Jadi kalau tidak ikut,kita nanti dinilai tidak loyal tehadap IPSI,”kata Mas Madji.
Mas madji nekad membawa 4 pesilat remajanya ke tingkat nasional. Hasilnya tutik haryati keluar sebagai juara I,demikian pula pada tahun 1979,mampu menelorkan 4 juara nasional,lagi-lagi Tutik Haryati keluar sebagai juara I.

Dipercaya Memimpin Organisasi

Keberhasilannya mempelajari ilmu tertinggi di organisasi tercinta ini, menambah dirinya kian mantap, kokoh dan semakin diperhitungkan.

Cantrik setia R.M Imam Koesoepangat yang di waktu-waktu sebelumnya selalu tampil di belakang ini, sejak berhasil menyelesaikan puncak pelajaran di Persaudaraan Setia Hati Terate, mulai diterima dan diperhitungkan di kalangan tokoh organisasi tercinta. Sejalan dengan kapasitasnya sebagai Pendekar Tingkat ni, ia mulai dipercaya tampil ke depan dengan membawa misi organisasi. Tahun 1978 Tarmadji dipilih menjadi Ketua I, mendampingi Badini sebagai Ketua Umum Persaudaraan Setia Hati Terate. Puncak kepercayaan itu berhasil diraih pada MUBES Persaudaraan Setia Hati Terate Tahun 1981. Yakni dengan terpilihnya ia menjadi Ketua Umum Pusat.

Setahun setelah Tarmadji Boedi Harsono memimpin organisasi, sejumlah terobosan yang dimungkinkan bisa mendukung pengembangan sayap organisasi diluncurkan.Salah satu produk kebijakan yang dilahirkan adalah pendirian Yayasan Setia Hati Terate lewat Akta Notaris Dharma Sanjata Sudagung No. 66/1982. Yayasan Setia Hati Terate merupakan komitmen organisasi untuk andil memberikan nilai lebih bagi masyarakat, khususnya di sektor ril. Dalam perkembangannya, di samping berhasil mendirikan Padepokan Persaudaraan Setia Hati Terate di atas lahan seluas 12.290 m yang beriokasi di Jl. Merak Nambangan Kidul Kodya Madiun, yayasan ini juga mendirikan dua lembaga pendidikan formal Sekolah Menengah Umum (SMU) Kususma Terate dan Sekolah Menengah Industri Pariwisata (SMIP) Kusuma Terate serta lembaga pendidikan ketrampilan berupa kursus komputer.

Sedangkan untuk meningkatkan perekonomian warganya, Tarmadji Boedi Harsono meluncurkan produk kebijakan dalam bentuk koperasi yang kemudian diberi nama Koperasi Terate Manunggal.

Hingga saat ini, Yayasan Setia Hati Terate telah memiliki sejumlah aset, antara lain tanah seluas 12.190 m2 yang di atasnya berdiri sarana dan prasarana phisik seperti: gedung Pendapa Agung Saba Wiratama, gedung Sekretariat Persaudaraan Setia Hati Terate, gadung PUSDIKLAT (Sasana Kridangga), gedung pertemuan (Sasana Parapatan), gedung Training Centre (Sasana Pandadaran), gedung Peristirahatan (Sasana Amongraga), Kantor Yayasan Setia Hati Terate, gedung SMU dan SMTP Kusuma Terate, gadung Koperasi Terate Manunggal dan Mushola Sabaqul Khoirot.

Searah dengan itu, pergaulannya dengan para tokoh Persaudaraan Setia Hati Terate pun semakin diperluas. Beberapa tokoh berpengaruh di organisasi tercinta didatangi. Dari para tokoh yang didatangi itu, ia tidak saja mampu memperdalam olah gerak dan langkah Persaudaraan Setia Hati Terate, tapi juga menerima banyak wejangan kerokhanian. Bahkan saat Tarmadji Boedi Harsono dipercaya untuk memimpi Persaudaraan Setia Hati Terate, sejumlah tokoh yang dulu pemah dihubunginya itu dengan rela menyerahkan buku-buku pakem Ke-SH-an yang mereka tulis sendiri

Wejangan, baik lisan maupun tulisan, dari para tokoh dan sesepuh ini dikemudian hari dijadikan bekal dalam memimpin Persaudaraan Setia Hati Terate. Dan terlepas dari segala kelemahannya, terbukti Tarmadji Boedi Harsono mampu membawa Persaudaraan Setia Hati Terate menjadi sebuah organisasi yang cukup diperhitungkan tidak saja di dunia persilatan tapi juga di sektor lainnya.

Sementara itu, penggarapan di sektor ideal dalam bentuk penyebaran ajaran budi luhur lewat Persaudaraan Setia Hati Terate tetap menjadi prioritas kebijakan. Dan hasilnya pun cukup melegakan. Terbukti, sejak tampuk pimpinan organisasi di pegang oleh Tarmadji Boedi Harsono, Persaudaraan Setia Hati Terate yang semula hanya berkutat di Pulau Jawa, sejengkal demi sejengkal mulai merambah ke seluruh pelosok tanah air. Bahkan mengembang lagi hingga ke luar negeri. Tercatat hingga paroh tahun 2000, Persaudaraan Setia Hati Terate telah memiliki 146 cabang di 16 provinsi di Indonesia, 20 komisariat di perguruan tinggi dan manca negara dengan jumlah anggota mencapai 1.350.000 orang.

Yang patut dipertanyakan adalah, misteri apa berpusar dibalik keberhasilan dia membawa Persaudaraan Setia Hati Terate ke tingkat yang lebih terhormat dan cukup diperhitungkan. Jawabnya, temyata ada pada tiga titik inti yang jika ditarik garis lurus akan membentuk misteri segi tiga. Titik pertama berada di Desa Pilangbango, Madiun (kediaman Ki Hadjar Hardjo Oetomo – titik lahimya Persaudaraan Setia Hati Terate), titik kedua berada di Pavilium Kabupaten Madiun (kediaman R.M Imam Koesoepangat – titik perintisan Persaudaraan Setia Hati Terate) dan titik ketiga berada di Padepokan Persaudaraan Setia Hati Terate Jl. Merak Nambangan Kidul Kodya Madiun – titik H. Tarmadji Boedi Harsono,S.E mengembangkan Persaudaraan Setia Hati Terate,,,,
 
Mas Madji, Sang Pembaharu
Apa yang dilakukan oleh H Tarmadji Boedi Harsono SE,membuat lelaki kelahiran Madiun, 3 Februari 1943 ini layak mendapat predikat sang pembaharu di tubuh Persaudaraan Setia Hati Terate. Pembaharuan baik di bidang reformasi manajemen maupun ajaran persaudaraan untuk kembali ke JATI DIRI terus dilakukan.
Anak sulung dari enam bersaudara,dari keluarga sederhana. Ayahnya, Suratman, seorang pegawai di Departemen Transmigrasi,sedangkan ibunya. Hj Tunik hanya sebagai ibu rumah tangga.
Lahir dari keluarga kurang mampu,beliau berjuang untuk mengubah nasib. Selain jabatan formal sebagai Ketua DPRD Kota Madiun periode 2004-2009,juga dipercaya untuk menjadi kendali utama Persaudaraan Setia Hati Terate Pusat Madiun,sebagai Ketua Umum sejak tahun 1981 sampai sekarang.
Bahkan berderet-deret jabatan pun tersandang di pundaknya,antara lain di organisasi keagamaan,ia Ketua IPHI(Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia) dan ketua KBIH(Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) Al Mabrur,Kota Madiun. Di profesi, ia Ketua Himpunan Pengusaha Minyak dan Gas (Hiswana Migas). Di pekerjaan ia pimpinan PT Mita Budi Prima serta badan usaha lainnya,yang mengelola minyak tanh dan beberapa SPBU di daerah Ngawi. Dan masih sederet jabatan nonformal lainnya yang ia sandang.
Bagaimana Tarmadji kecil sampai bisa diterima menjadi murid Mas Imam,padahal waktu itu persyaratan menjadi warga cukup ketat? Ternyata ada kisah yang cukup menarik. Waktu itu,tahun 1958 ia melihat Mas Imam sedang ikut pertandingan pencak silat di rumah dinas Wali Kota Madiun.“Saya waktu itu melihat dan berfikir,saya suka gelut jadi pegin juga belajar pencak,”katanya.
Namun waktu itu, SH Terate hanya menerima murid paling muda SMA atau sekitar 17 tahun. Sebab anggota SH Terate mendapat didikan keluhuran budi yang tinggi.“Jadi dulu anggota SH itu sangat berbudi luhur,memperhatikan orang lain,cinta kasih dan berbudi pekerti. Anak kecil seperti saya dipandang belum mampu menerima didikan budi luhur seperti itu,”kisahnya.
Sehabis nonton pencak silat itulah beliau sering datang ke Paviliun untuk melihat Mas Imam sedang melatih murid-muridnya. Karena anak kecil tidak boleh berlatih pencak. Tarmadji kecil hanya bisa melihat saja,sampai-sampai setiap Mas Madji melihat langsung disuruh pergi.“Bahkan pernah saya diminta agar meninggalkan tempat latihan karena masih kecil,”katanya mengingat masa-masa saat hatinya tergelitik ingin belajar pencak silat.
Namun obsesinya untuk dapat belajar pencak silat tak menyurutkan langkah Tarmadji kecil, Ia tak kurang akal. Kemauan besarnya untuk berlatih silat membuat dia mencari jalan. Adik Mas Imam yang bernama Abdullah Koesnowidjojo diujuk-ujuk agar ikut belajar silat ke kakaknya.“Ternyata dia mau,dan saya pun dipanggil boleh ikut latihan. Kalau latihan,saya selalu ditempatkan paling belakang,tapi akhirnya beliau melihat kemampuan saya,”katanya.
Ketekunan dalam belajar silat akhirnya membuahkan hasil pula. Tahun 1963,Mas Madji disyahkan menjadi pendekar tingkat 1. Namun sebelum disyahkan jadi pendekar,Mas Madji sempat menorehkan prestasi yang luar biasa.
Tahun 1970,Mas Madji disyahkan sebagai pendekar tingkat 2,dan setahun kemudian ia dipercaya menjadi Metua Cabang Persaudaraan Setia Hati Terate Madiun,hingga tahun 1974.
Tahun 1978,Mas Madji dipanggil RM Imam Koesoepangat di rumah Pak Badini. Di rumah Pak Badini itulah Mas Imam menyatakan kalau ingin melatih Mas Madji dan membuka latihan tingat 3. Mas madji sendiri yang dipilih untuk dilatih sekaligus diangkat dan dsyahkan menjadi pendekar tingkat III.

Tirakat Dalam Mencari Jati Diri
Langkah mencari jati diri pun ia lalui dengan puasa 100 hari. Saat tirakat yang dilalui Mas Madji menginjak hari 63 saat ada peristiwa yang membuat ia harus membatalkan puasa 100 harinya.“Waktu itu saya sedang main band bersama teman saya Soleman,Margono dan Ismadi,serta adiknya,”ceritanya.
Tanpa dinyana,Mas Madji terkena strum. Untungnya margono cepat tanggap,ia langsung mencabut kabel dari steker listrik.“Yang kesetrum Cuma saya saja. Saya sempat jatuh dan tidak bisa apa-apa,”katanya.
Saat itu,oleh Mas Imam,Tarmadji disuruh makan,tapi ia menolak.“Kalau nggak mau makan ya sudah,tapi kamu nanti bisa gila lho,”kata Mas Madji menirukan Mas Imam saat itu. Takut jadi gila,beliau pun makan hingga tirakatnya 100 harinya pun batal.
“Ada apa? Tanya Mas Imam saat Tarmadji suadah tenang dan bias diajak bicara.
“Saya ingin mencari jati diri,tapi belum bisa,jawab Mas Madji.
Mendengar murid kinasihnya mencoba tirakat untuk mencari jati diri,Mas Imam pun memberikan arahan dan menunjukkan jati diri Mas Madji. Mulai kekurangan maupun kelebihannya,semuanya dijlentrehkan Mas Imam secara gamblang,menurut Mas Imam, kekurangan itu tidak bisa dihilangkan, namun bisa diminimalkan. Sedang kelebihan yang dipunyai,juga tidak boleh sering digunakan.
Perjalanan dalam oleh batin sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 1967. Gemblengan olah batin dari Mas Imam disimpulkan sebagai”among aweh reseping ati”. Ibaratnya manembahing kawulo lan gusti,katanya.
Beliau sangat taat kepada Mas Imam, namun bukan berarti ia tak pernah melanggar apa yang diajarkan. Apa yang diajarkan, ingin ia buktikan dan diuji dulu kebenarannya, kecuali dia sudah mengerti. Misalnya tentang ajaran kekebalan dan tenaga dalam yang tak pernah diajarkan Mas Imam.”mas imam tidak mengajarkan itu,tapi kalau sya mau,ada teman-teman beliau yang bisa mengajarkan. Karena saya ingin membuktikan ucapan beliau bahwa ilmu kekebalan itu tidak ada gunanya, maka saya langgar,”katanya.
Beliau pun belajar ilmu Ismu Gunting,sebuah ilmu tenaga dalam, dimana siapa pun yang terkena pukulan ilmu itu pasti glenteran(jatuh terkapar). Ilmu itu dipelajari dari Mas Imam sendiri. Tapi ternyata apa yang dikatakan Mas Imam,benar juga. Suatu saat,ketika Tarmadji marah kepada adiknya, tanpa sadar ia menempeleng sang adik hingga glenteran.
Saat marah dan memukul itu,ia tanpa sengaja menggesekkan kedua telapak tangannya, hingga secara tak sadar pula ilmu Ismu Gunting itu tersalur di telapak tangannya dan mengenai adiknya hingga glenteran. Akhirnya saya ingat apa yang dikatakan Mas Imam, bahwa ilmu karang iku boreh pinampane, sanyatane kepencok poncobolo, mbalenjani janji,”katanya menirukan pitutur mas imam.
Mas madji akhirnya yakin,sebenarnya ilmu semacam itu”termasuk di tembak lakak-lakak, suatu saat memang benar-benar bisa dibuktikan, namun benar juga saat kepencok poncobolo mbelenjani janji.“Tidak ada manusia itu dibacok tidak tedas, sebab suatu saat pas hari naasnya pasti bisa dibacok,”katanya.

Obsesi Mas Madji
Memang tempuk pimpinan Persaudaraan Setia Hati Terate, H Tarmadji Boedi Harsono mempunyai obsesi yang sangat kuat agar SH Terate berkembang se dunia.“Dasarnya,ingin persaudaraan dengan siapa pun tanpa memandang siapa kamu siapa saya,”tegasnya.
Selain itu,Mas Madji ingin menjadikan SH Terate menjadi aset nasional. Meski untuk itu di sadari pasti banyak hambatan, tantangan dan rintangan. Saya yakin biar pelan tapi pasti,”katanya.
Untuk itu diperlukan semua sedulur SH punya komitmen terhadap keberadaan dan nyengkuyung SH Terate. Sebab Persaudaraan Setia Hati Terate berakar dari kebudayaan bangsa.“Tapi kita tetap agamis, tapi bermacam-macam agama kita wadahi jadi satu di Persaudaraan Setia Hati Terate,”tandasnya.
Sebab di situlah watak,sifat bangsa Indonesia tercermin. Halus,sopan dan santun,namun kalau diganggu akan mengeliat. Ibarat mati pun dipertaruhkan kalau itu menyangkut harga diri. Begitu pula Persaudaraan Setia Hati Terate watak sifatnya harus lemah lembut,sopan santun. “Tapi kalau kita diganggu,kita akan bertindak,tapi saya menyadari sehingga menanggulangi dengan senyum dan mencari jalan keluar terbaik,”katanya.
Sehingga dengan demikian, segala permasalahan dihadapi dengan penuh arif dan bijaksana, dilandasi sebuah filosofi”ngluruk tanpo bala,menang tanpa ngasorake”. Sebab semua itu menurut Mas Madji,merupakan romantika dalam kehidupan yang justru akan mendewasakan kita.“Karena itulah Persaudaraan Setia Hati Terate berkembang,”ujarnya.
Perkembangan itu di akui banyak menghadapi kendala, baik dari intern maupun ekstern. Dan beliau sangat yakin, semua itu akan selesai lantaran Persaudaraan Setia Hati menghendaki peseduluran. Dunia pencak silat memang harus hebat,karena itu benteng perseduluran,”ujarnya.
Dan klimaksnya 9 oktober 2003 dengan diadakan kesepakatan antara Persaudaraan Setia Hati Terate dan Tunas Muda Winongo. Menurut Mas Madji,sebenarnya antara dua kubu itu tak ada permasalahan apa-apa.“Tapi saya memang menyadari bahwa kita dipertarungkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab,”katanya.
Bahkan ada banyak pihak-pihak yang mencemooh kesepakatan itu, bahwa yang sepakat hanya yang di atas saja. Namun beliau yakin cemoohan itu pelan-pelan akan hilang dengan sendirinya.“Kenyataannya, 4 tahun ini sudah tidak ada apa-apa, kalau ada yang muda berkelahi itu kan biasa. Dan saya menghargai betul beliau-beliau yang telah mensuport semua ini, sehingga sampai sekarang tak bermasalah lagi,”ujarnya.
Dan sekarang, saatnya bagi Persaudaraan Setia Hati Terate berlomba-lomba meraih prestasi dalam segala bidang. Baik pencak silatnya, maupun hubungan dengan masyarakat. Namun ia mengingatkan agar tidak mencampuradukkan dengan kepentingan pribadi. Karena itulah dalam Reker Persaudaraan Setia Hati Terate, Oktober 2009, ditekankan “kembali ke jati diri”. Yakni Persaudaraan Setia Hati Terate ingin membangun peseduluran dengan tujuan ikut menjadikan manusia berbudi luhur. Ilmunya mengenal diri sendiri di dalam wadah persaudaraan,kemudian dilatih pencak silat ala Setia Hati Terate.
Selain itu juga dididik budi pekerti ke-SH-an, yakni jejering urip,l ungguhing urip, sangkan paraning dumadi, yang artinya bagaimana hidup di dunia, bagaimana kita di masyarakat dan semua adalah dari Allah SWT.“Untuk itu orang SH Terate hidup harus penuh arif dan bijaksana,”katanya.
Karena itulah sebagai warga Persaudaraan Setia Hati Terate mempunyai prinsip, kalau dipilih dan ditunjuk sebagai Ketua Umum Persaudaraan Setia Hati Terate, seluruh hidupnya akan diabdikan kepada Persaudaraan Setia Hati Terate.“Saya akan meniti karier bersama-sama Setia Hati Terate. Kalau SH Terate besar saya ikut besar, kalau kecil saya ikut kecil,”ujarnya.

Pola Pikir Saat Ini :
Bagaimana H Tarmadji Boedi Harsono mengembangkan Persaudaraan Setia Hati Terate, diibaratkan sebagai orang hidup yang membutuhkan sandang, pangan dan papan. Sebab harga diri organisasi harus punya papan yang jelas. Ia yakin, kalau sedulur Persaudaraan Setia Hati Terate secara lahir batin menyadari betul keberadaannya, maka diibaratkan sebagai suwe mijet wohing ranti.
Menyadari akan hal itulah mengapa akhirnya Mas Madji dengan segala daya upaya membangun padepokan melalui yayasan. Lewat Wali Kota Madiun Drs.Marsoedi dan ketua DPRD Kota Madiun (waktu itu Astar Asmali), maka Persaudaraan Setia Hati Terate mendapat tanah yang dibeli dengan harga pemerintah.
Dan sekarang, ada sebuah pemikiran bagaimana Persaudaraan Setia Hati Terate mempunyai dana abadi. Untuk itulah diharapkan agar seluruh warga Persaudaraan Setia Hati Terate segera mengkonsolidasikan diri menjadi satu, satu kekuatan yang berakar dari budaya.
Dana abadi itu selain untuk hidupnya Persaudaraan Setia Hati Terate, juga untuk membantu warga Persaudaraan Setia Hati Terate maupun masyarakat yang kurang mampu.“Kalau seluruh kekuatan Persaudaraan Setia Hati Terate rela menyumbang, saya yakin dalam waktu singkat akan dirasakan manfaatnya. Silahkan siapa yang akan pimpin,”katanya.
Selain itu,ditegaskan bahwa radius 5 sampai 10 km dari padepokan adalah milik Persaudaraan Setia Hati Terate. Artinya, masyarakat sekitarnya merasakan betul arti keberadaan Persaudaraan Setia Hati Terate.“Dan sudah saya rintis kalau saya wayangan, kalau punya rezeki semua pedagang yang jualan saya bantu dana. Saya sangat sedih kalau Persaudaraan Setia Hati Terate dikatakan kumpulan wong gelutan. Karena itulah saya ajak warga Persaudaraan Setia hati Terate untuk kembali ke jati diri,”ujarnya.

Kembali Ke Jati Diri
Mengapa harus kembali ke jati diri??? Menurut Mas Madji, setiap Setia Hati Terate hanya mempunyai satu platform. Karena itu Setia Hati Terate tidak bisa dibawa kemana-mana. Dibawa ke rohani saja tidak cocok, dibawa kesilatnya saja juga tidak cocok. Apalagi dibawa ke kancah politik jelas tidak cocok.“Meski yang pegang itu orang politik, jangan dianggap bahwa Setia Hati Terate bisa dibawa ke politik,”katanya.
Karena itulah saat ini selalu dikumandangkan, kembalilah ke jati diri, asal muasalnya Setia Hati Terate.“Kita harus sadar, bahwa Setia Hati Terate lahir dari seorang pejuang, berarti kita harus mengisi apa yang menjadi perjuangannya. La ngisinya bagaimana?”Katanya.
Mengisi dan melanjutkan perjuangannya pendiri Setia Hati, adalah melalui pendidikan, sesuai platform Persaudaraan Setia Hati Terate, yakni persaudaraan dengan siapa pun, terutama dengan keluarga Setia Hati Terate. Yakni persaudaraan yang tidak melihat siapa kamu, siapa saya, maupun latar belakangnya.
“Tapi yang ada saling sayang menyayangi, saling hormat menghormati dan saling bertanggungjawab,”katanya.
Saling menyayangi adalah sedulur Setia Hati harus saling menyayangi tanpa membedakan suku, bangsa, ras, maupun latar belakang yang dimiliki.“Sebab di hadapan Allah SWT, kita semua sama. Ketika berkumpul kita sama, yang membedakan hanya tugas dan kewajiban masing-masing, jadi kita harus saling menghormati keberadaan masing-masing,”ungkapnya.
Dan, baik jeleknya Setia Hati Terate, menjadi tanggungjawab bersama sebab apa pun yang dilakukan, apapun kegiatannya, pasti membawa nama Setia Hati Terate.“Karena itulah sebagai warga Setia Hati Terate di mana pun dan kapan pun juga harus ikut beratanggungjawab,”katanya.
Selain itu,semua kadang Setia Hati Terate harus menyadari pula tujuannya, yakni ikut menjadikan sosok yang berbudi luhur, tahu salah dan benar, beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sebab yang ingin diciptakan adalah orang yang mempunyai keberanian dan kepribadian Bangsa Indonesia.
“Setelah kita tahu tujuannya, kita juga harus mengenal ilmunya apa,”katanya.
Ilmu Setia Hati Terate adalah mengenal diri sendiri sebaik-baiknya, setelah mengenal diri sendiri, kita tidak akan sulit mengenal orang lain. Mengenal diri sendiri baik kekurangan maupun kelebihannya. Sebab manusia tidak akan luput dari kekurangan dan kelebihan.“Dengan demikian, kita tidak menjadi orang yang sombong, yang angkuh dan merasa paling hebat. Dan ini rentetannya menjadi orang yang penuh kesederhanaan,”tegasnya.


Sedang pencak silat merupakan benteng peseduluran, agar peseduluran itu tidak mudah diganggu gugat. Ini semua juga terkait dengan saat pendiri Setia Hati Terate tahun 1922 di masa penjajahan. Sebab dengan pencak silat, bisa bergerak cepat. Dan dari pencak silat itu diajarkan budi luhur.“Karena itulah mestinya Setia Hati Terete merupakan kumpulan orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan mestinya setiap tindakan selalu diperhitungkan dan lemah lembut,”ujarnya.
“Jadi kalau orang Setia Hati Terate yang tindakannya antem kromo, kembalilah ke jati dirimu. Sehingga siapa pun yang kita dekati, mereka meras nyaman,”tambahnya.
Karena itulah menurut Mas madji, mengapa pendiri Setia Hati Terate disebut dengan Ki Hajar, bukan guru besar. Sebab beliau adalah pendidik, ini yang tidak disadari oleh dulur-dulur. Dan itulah sebabnya yang dikehendaki dan merupakan platform Setia Hati Terate,”katanya.
Namun demikian, pencak silatnya harus hebat, namun tidak menjadikannya arogan. Sebab dengan pencak silat inilah Setia Hati Terate dapat berkembang. Dengan demikian, bisa diibaratkan Setia Hati Terate tidak kemana-mana, tapi ada dimana-mana. Ilmunya bisa saja untuk semua orang, namun tidak boleh yang pokok-pokok. Sebab yang pokok-pokok menjadi rahasia Setia Hati Terate.
“Kalau baik bagaimana menjadi lebih baik, kalau kurang baik bagaimana menjadikannya baik,”tegasnya.

  

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar